About YOU...Read More

Sabtu, 18 April 2020

Cerita Sememsta Di balik Hujan


Mentari lenyap dari peraduan
kanvas biru bungkam kesekian
jingga bahkan terlihat enggan
rinduku pun kian tertekan

guratan cakrawala tak lagi membias
oase masa lalu sempurna menindas
detik demi menit aku membenci waktu dengan tegas
menguak hampa yang tak sempat tuntas

kilat mengibas di sela air mata
melodi luka rapih tertata
bayangmu perlahan semakin nyata
seakan jarak dalam genggaman kita

ada luka yang tak henti mngadu
mengais sepi yang sempurna beradu
mengantarkan jutaan pundi rindu
di balik hujan, semesta bercerita rindu

Ilusi (lomba cerpen 2016)

Kelam bertumpu di kanvas langit, bintang-gemintang luas melintang dari satu arah menuai hingga menjadi hamparan kerlap kerlip yang menawan, ditambah bias rembulan yang memantul sempurna disela-sela jendela kamar - ini malam yang sempurna.  Cassandra masih terduduk begitu saja tepat menatap jendela kamarnya, meski hembusan angin kian menerpa wajahnya lebih sering, namun diamnya tak bergeming - masih sesunyi beberapa jam yang lalu.
            Angkasa, ya. Namanya angkasa, entah bagaimana keduanya mampu dipertemukan begitu saja. Kejadiannya sangat klasik tanpa menuntut alur cerita yang berbelit hingga sulit dikenang, hanya sebatas cerita menarik ditengah rinainya bulir hujan.
***
            Sore itu hujan seperti ditumpahkan sengaja ke bumi, angin berhembus sekencang-kencangnya, guntur menyambar hingga memekik telinga, pepohonan seperti tak kuasa melawan arah angin yang mendayu paksa dedahanan yang lekas  menjuntai ketanah. Cassandra terduduk disudut teras sebuah pertokoan kecil yang menghadap kejalan utama. Tiba-tiba sebuah tangan menjulurkan sebuah payung dihadapannya.
            “ Payung ku terlampau besar jika hanya aku yang menggunakannya, em.. mau pulang bersama ku ? “ Seorang lelaki yang terlihat sebaya dengan cassandra tiba-tiba suaranya menerobos disela-sela suara guntur yang memekik. “ Eh ? aku ? “ Cassandra hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. “ Ayo, nama ku Angkasa. Kalau kamu ? “ Tanpa menunggu reaksi Casssandra Angkasa lebih dulu menarik lengan Cassandra hingga membuatnya beranjak dari tempat duduknya. Keduanya pun membelah hujan dengan payung tumpangan yang diberikan Angkasa. “ Oh, kalo aku Cassandra. Tapi bagaimana bisa kamu memberi ku tumpangan payung ? “ Casandra menatap wajah angkasa agak ragu, namun hatinya berdetak jauh lebih cepat. “ Karena aku hanya bisa lihat kamu disana “ Senyumnya menyimpul diujung kalimat. “ Maksud kamu ? “ Cassandra belum paham sepenuhnya, Namun percakapan pertama mereka terhenti sampai disitu.
            Rumah Cassandra sudah terlihat didepan. Keduanya sampai setelah 15 menit parjalanan. Hujan yang tadinya mengguyur tanpa ampun kini mendadak seperti tersumbat - tak meyisakkan sebutir pun tetes hujan. “ Ini rumah kamu San ? “ Angkasa bertanya sekali lagi sambil menutup payungnya. “ Iya, ini rumah ku. Rumah kamu dimana Sa ? “ Cassandra menatap sekali lagi sepasang bola mata yang terlihat begitu teduh dihadapannya. “ Kalau tiba-tiba aku datang kesini lagi, kamu gak keberatan  kan jalan-jalan sama aku ? “ . “ Eh, i..iiyaa .. “ Belum sempat manjawab pertanyaan Angkasa, tubuhnya telah lenyap dalam rangkulan Angkasa terlebih dahulu. Mimik wajahnya kian terkejut dalam rangkulan Angkasa, matanya membulat, bibirnya seraya membulat - ternganga. “ Kamu gak perlu tahu apa-apa tentang aku. Cukup aku yang tahu segalanya tentang kamu. Aku janji “ belum sepenuhnya Cassandra melewati masa terkejutnya, mata teduhnya menatap lamat sepasang mata Cassandra.
            Selaras hari itu kian berlalu, semenjak itulah Cassandra belajar apa itu yang sejati. Entahlah, Cassandra sendiri sebenarnya belum sepenuhnya memahamai maksud yang ‘sejati’, tapi ia yakin sejati itu adalah yang hadir tanpa meninggalkan.
***
            Waktu sudah menunjuk seperempat hari, jingga membentang luas dilangit-langit. Serdadu burung cemara berarak riang dalam gemulainya kepakakkan sepasang sayap, pantulan mentari memantul padu diatas danau yang tenang, beberapa angsa sibuk berenang kesana kemari.
            Kali ini Angkasa mengajak Cassandra lagi untuk menghabiskan waktu sunset  bersama-sama. Tiba-tiba pertanyaan Angkasa memecah hening yang diciptakan alam. “ Kamu percaya aku San ? “ pandangannya lurus kedepan, menengadah menatap mentari yang segera tumbang. “ Entah, aku juga gak tahu kenapa bisa memberikan kepercayaan ku buat kamu sepenuhnya gitu aja. “ Suaranya datar namun penuh pengartian disetiap kata-kata yang terlontar. Jemari Angkasa meraih jemari Cassandra dengan segera. “ Aku janji San, bukan hanya mentari aja yang bisa tersenyum terus buat semua orang. Suatu saat nanti kamu yang harus menjadi mentari disetiap hati orang-orang yang kamu sayangi. Aku janji “ jemari Angkasa semakin kuat menggenggam jemari Cassandra.
            Angkasa penuh teka-teki bagi Cassandra, teka-teki yang mengajarkan kata ‘sejati’. Sejati yang menurutnya hadir tanpa meninggalkan. “ Mau pulang ? “ kali ini matanya menatap wajah Cassandra dengan sengaja. Tak ada jawaban dari bibir Cassandra - ia masih mencerna setiap perkataan Angkasa yang terlontar tanpa diduga. Kepalanya mengangguk mantap tanda setuju.
            Perlahan namun pasti keduanya meninggalkan danau tersebut. Bagi Cassandra dimana pun tempat yang mereka kunjungi, semuanya telah mengunci setiap detik kenangannya bersama Angkasa - Lelaki yang mengajarkan kata ‘sejati’ untuk Cassandra.
            “ Aku boleh Tanya sesuatu sama kamu ? “ jemari Cassandra menyentuh lengan Angkasa. “ Apapun “ tangan Angkasa mengacak tatanan rambut Cassandra yang tertata. “ Menurut kamu sejati itu yang bagaimana Sa ? “ tatapannya nanar, memandang lurus tanpa tujuan. “ Menurut aku, sejati itu yang hadir tanpa meninggalkan dan yang abadi ketika semuanya hanya sementara. Sama halnya sama manusia San, cepat atau lambat pasti ada yang meninggalkan dan ditinggalkan, termasuk aku dan kamu. Tapi ingat sesuatu yang sejati itu tidak akan pernah lenyap meski aku pun tidak akan abadi menemani kamu. Itulah yang disebut ‘cinta’, saat tak ada alasan dimana kita tidak mampu menyakiti perasaan seseorang. Aku janji San “ kali ini mata Angkasa menatap tajam kearah sepasang bola mata Cassandra, belum pernah Angkasa menatapnya seperti ini - dalam dan penuh keteduhan. Cassandra jatuh cinta.
***
            Waktu terasa berjalan secepat hembus angin, meloncat dari satu detik ke detik selanjutnya, membuat hari kian dipenghujung bulan. Sudah hampir satu bulan Cassandra mengenal Angkasa, tidak diragukan Angkasa yang membuat hari-hari Cassandra bak hembusan angin.
            “ San, ini dari aku buat kamu “ tangannya meraih sesuatu didalam saku celananya. “ Kalung ? kenapa tiba-tiba begini Sa ? “ matanya belum mempercayai apa yang ia lihat sekarang. “ Aku pilih kamu jadi pemilik abadi kalung ini. Kamu suka kan ? “ tangannya meraih tangan Cassandra. “ Tapi kenapa kamu pilih kalung matahari buat aku ? “ matanya masih menatap lamat-lamat kalung matahari dalam genggamannya. “ Karena kamu harus menjadi matahari bagi setiap orang yang kamu sayangi. Ada atau tidaknya aku kelak. “ Nada bicara Angkasa mulai berubah - seperti ada sesuatu yang mencekat ditenggorokannya.
            Cassandra lekas mendekap Angkasa. Air matanya membuncah, meski sedari tadi sekuat apapun Cassandra menolaknya namun air mata itu kian tak terkendali. Cassandra bukan menangis karena terharu atas pemberian Angkasa terhadapnya. Ia menangis karena takut kehilangan Angkasa - seseorang yang mengajarkannya arti ‘sejati’ yang sesungguhnya.
            “ Kok kamu nangis San ? “ Cassandra masih mendekap Angkasa, bukannya menjawab ia malah balik bertanya. “ Kamu gak akan kemana-mana kan Sa ? “ suaranya menjadi terisak. “ Aku disini San, aku gak kemana-mana. “ jawaban Angkasa sebenarnya melegakkan pikiran buruk Cassandra, namun sesuatu seperti menahan suara datar Angkasa. “ Kamu gak boleh jadi yang meninggalkan karena aku juga gak mau jadi yang ditinggalkan. Aku yakin kamu juga salah satu dari yang sejati “ Cassandra melepas dekapannya, matannya langsung mencari sepasang mata Angkasa - memastikan bahwa mata itu tidak berbohong. “ Kamu yang salah San, bukan aku yang sejati, tapi ini. Cinta aku yang sejati buat kamu. Aku janji “ jemarinya menunjuk dadannya sediri. Mata angkasa kini mulai berkaca-kaca. Menahan sesuatu yang lekas melelah.
            “ Aku pulang ya San, kamu juga masuk kedalam ya. Sekarang sudah larut, nanti kamu capek “ Sambil membelai rambut panjang Cassandra. “ Tapi besok kamu ajak aku jalan lagi kan Sa ? jangan pergi “ Suara parau Cassandra mengambang diantara angin malam,. “ Apapun yang terjadi kelak, kamu harus jaga kalung matahari pemberian ku San. “ Cassandra tak bergeming. Jemarinya masih menggenggam  jemari Angkasa begitu eratnya. Sebenarnya ini bukan perpisahan pertama mereka setelah menjalani rutinitas harian menghabiskan sunset bersama. Selalu ada hari esok yang dinanti oleh Cassandra saat bersama dengan Angkasa. Entahlah rembulan bak berbisik begitu saja dikedua telinga Cassandra bahwa kali ini adalah yang terakhir.
***
            “ Aaaaaahhhhhhh …. Mata ku kenapa bu, kenapa gelap ? ibu dimana ? bu, jawab aku bu, kenapa semuannya hanya ada satu warna ? “ Cassandra menjerit histeris diatas kasurnya. Sang ibu yang sedari tadi duduk terjaga disampingnya tak mampu menjelaskan apa-apa, kecuali derasnya air mata yang ia luapkan. “ Nak ini ibu nak, ibu disini, disamping kamu San, jangan takut, ada ibu “ ibunya mendekap Cassandra seerat mungkin. “ Ibu, kenapa aku tidak bisa lihat apa-apa selain hitam ? sejak kapan mata ku jadi begini bu ? “ Suaranya mencekat.
            Hampir setengah menit terajut, ibunya belum menjawab juga pertanyaan Cassandra - masih bingung merangkai kalimat yang tepat untuk diucapkan kepada anaknya. “ Kecelakaan keluarga kita 3 bulan yang lalu San, ayah mu meninggal, dan kamu…buta secara permanen nak. “ pun ibunya, menjawab sesingkat mungkin - hatinya masih tercabik akibat kejadian sebulan lalu.
            Tiga bulan lalu, keluarga mereka mengalami kecelakaan tragis. Dimana maut menjemput sang ayah, Cassandra buta permanen, hanya sang ibu yang selamat seutuhnya. Cassandra sendiri baru siuman dari komanya.
             “ Angkasa, oh iya Angkasa bu, mana Angkasa ? “ tiba-tiba ia teringat nama seseorang yang terasa begitu nyata diingatannya. “ Angkasa siapa San ? tidak ada siapa-siapa selain ibu selama kamu koma nak. “ ibunya turut bingung, karena ibunya tak sedikit pun mengenal seorang teman Cassandra yang bernama Angkasa. Teman Cassandra dapat dibilang tidak terlalu banyak, Cassandra sendiri home schooling dirumahnya, sehingga ibunya pun tahu siapa saja teman Cassandra.
             “ Bu, bukankah liontin kalung ku berbentuk matahari ? “ Ucap Cassandra yang terdengar mencekat sambil memegang liontin kalungnya sendiri. “ Iya nak itu matahari“. “ Siapa yang memberikan ini untuk ku ? Apakah ibu tahu ? “. Ibunya menggeleng, hatinya begitu miris. Menganggap Cassandra masih belum bisa menerima kenyataan yang menghantam keras hati anaknya hingga begitu berkeping-keping “ Tapi ibu baru melihat kamu mengenakan kalung itu sekarang nak, kemarin tidak ada kalung itu “ tangan sang ibu pun mulai meraih kalung matahari yang dikenakan Cassandra.
***
            Benar, Cassandra memang buta dan koma tiga bulan yang lalu. Sekarang hari jatuh pada bulan Januari. Cassandra ingat betul Angkasa menemuinya pada bulan Desember - Saat penghujan tiba. Biarlah, siapa dia Angkasa, baik itu hanya mimpi indahnya ataupun ilusinya saja, namun Cassandra yakin, bahwa Angkasa memang tidak akan pernah menjadi sesuatu yang sejati, tapi rasa didalam hati Angkasa lah yang akan selamannya sejati. Sesering Angkasa berkata ‘Aku janji’ kepadanya. Tangannya sekali lagi meraba kalung yang ia kenakan. Entahlah setiap Cassandra meraba kalungnya, ia merasa sebuah kedamaian menyeruak begitu saja kedalam hatinya. Pertemuaannya memang janggal. Sama sekali tak masuk akal, tapi Cassandra akhirnya memahami mengapa Angkasa waktu itu memberikannya kalung matahari kepadanya. Bukti bahwa Angkasa memang seseorang yang nyata. Meski sebatas ilusi yang kini hanya mampu ia ingat.
            Cassandra percaya suatu hari nanti sesuatu yang bernama ‘sejati’ itu pasti akan menghampirinya lagi. “ Terimakasih Angkasa, karena mu aku telah memahami jika yang sejati itu pasti abadi tanpa meninggalkan, meski yang memiliki hati telah pergi, namun perasaannya tidak akan lenyap bersama sang pemilik. Terimakasih karena telah mengajarkan ku untuk menjadi ‘mentari’. Sekarang aku yang janji untuk mu Sa “ Kalimat Cassandra tidak terputus sepenuhnya - isak tangisnya meleleh, seakan menjelaskan betapa sulitnya merindukan seseorang yang entah dimana. Malam itu pun Cassandra telah sepenuhnya menerima apa yang terjadi terhadapnya. Meski itu sebatas mimpi atau ilusi belaka.