Dalam malam sunyi menyerbak, tanpa desau suara
tanpa riuh berkelana tanpa hujan namun hati tetap sembab tanpa kegelapan namun
hari tetap suram. Aku lah yang rapuh.. purnama yang sendiri tetap kuat mentari
yang sendiri tetap riang, namun aku? Mengapa begitu lemah dalam kesunyian..?!
Benar adanya, jika tak selamanya sunyi itu buruk..
walau hanya bersama hembusan angin ku ceritakan setiap tetes air mata yang
mengalir begitu saja pada angin. Angin-angin yang mendekap getir, tapi
setidaknya mereka tetap menyayangi setiap insan tanpa pamrih. Mendengarkan
keluh kesah walau tanpa bahagia. Mengapa aku tetap merasa sunyi meski berjuta
alas an seharusnya selalu ada untuk menjadi satu-satunya alasan untuk tetap
tersenyum bahagia, karena kadar kebahagiaan seseorang itu memang tergantung
tingkat kedewasaan diri kita masing-masing.
Dan kini aku bungkam. Tepatnya bungkam ku dalam
linangan air mata yang tak kasap panca indera manusia, karena bungkam ini
adalah tangisan ku..
Entah mengapa aku mudah menangis disaat-saat seperti
ini. Aku ingin berlari tanpa menoleh kebelakang tanpa singgahi lembah nestapa
tanpa temui mereka yang melukai hati .. tapi mustahil.!
Aku
ingin berlabuh, berlabuh tepat dalam dekapan bahagia yang abadi. Bukan bahagia
sejenak lantas terkurung kembali dalam duka.. Tuhan berikan aku sebuah kekuatan
yang lebih agar aku tetap bertahan dalam senyum indah ini apapun yang aku
rasakan ,,,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar