Saat mentari tak menyisakkan secercah sinarnya di satu
sisi ruang hati ini yang redup
Aku terus
berjalan.
Berjalan lurus tanpa pedulikan kelam yang mencekam,
disudut jalan samar namun pasti ku lihat sebongkah batu
besar menumpuk kaku penuh debu
sapuan tangan ku bergerak cepat namun itu tetap batu
yang tak mungkin
berubah menjadi bongkahan permata di hari kelam ku sekarang.
Ku putuskan hanya untuk terus berjalan sambil melupakan
tumpukan bebatuan yang tadi.
Kaki ku terus
melangkah,
angin mencekam sanubari
ku,
membawa hampa kian membumbung tinggi,
ku pikir seseorang akan ku jumpai di perjalan kali ini,
namun aku tetap sendiri hingga hari ini.
Sesekali aku menengok kebelakang tapi tiada guna.
Aku tetap sendiri,
perjalanan ini terasa semakin menyulitkan ku ketika kelam
kian tak brhujung cahaya.
Aku hampir putus asa,
jalan ku terseok.
Kaki ku mematung.
Badan ku menggigil, namun tak sebeku hati ku.
Sekarang aku terdiam entah sesuatu apa yang membawa ku
pada oase kehidupan lalu ku
yang telah lama
sengaja aku lupakan
tanpa mencoba untuk mengingat-ingat setiap inci
kejadiannya.
Namun saat ini
semuanya seakan berputar-putar disekeliling tubuh ku
memutar-mutar balik koleidoskop masa lalu yang telah lama
ku buang jauh-jauh dari ingatan ku.
Aku tak berkutik. Hembusan angin lebih mencekam dari yang
sebelumnya.
Kelam semakin
membara.
Hati ku kini
sepenuhnya remuk.
Hancur berantakan
di tengah perjalanan yang belum sempat aku selesaikan.
Sun, 01292017
Alazhar3, 08.03 a.m
Tidak ada komentar:
Posting Komentar