About YOU...Read More

Sabtu, 01 April 2017

symponi hitam

Mentari menyongsong hangat diperaduannya
Menjalin kedamaian hingga ke sanubari
Awan putih menggantung anggun bak pualam
Tutur lembut mengiang dikepala
Bila esok bukan nentari yang temani
Bila esok tiada bahagia merangkul manja
Bila esok senyum hanya dalam kelabu
Ku pastikan kamu tak pernah tahu
Kala nafas tak lagi menghembus
Berjuta rasa yang ku kubur
Kan ku titipkan segalanya kepada rembulan
Tak mengapa hati ini kian memendam
Bibir ini kian membisu
Tak ada yang ku tahu tentang mu
Tak ku hitung waktu
Meski mencintai mu membuat ku lekas menunggu
Sakit ku, ku simpan
Lelah ku, ku telan
Kecewa ku, ku lupakan
Tak ku perdulikan hati yang temaram
Tapi mengapa kau hiraukan segenap harapan ini?



Rabu, 08 Maret 2017

tinggalkan aku

Saat aku hanya menyinyir bisu ditengah terpaan sinar rembulan.
Hati tetap bergeming,
Membeku bisu layaknya bongkahan batu
Tanpa sesal ku temui
Namun kekecewaan ini tak mampu kau tawar kembali
Gemintang pun berhujung kemilau
Namun langit dimata ku tetap sama
Sama-sama hampa bak hati nan tertimbun luka
Kau datang dalam gelap ku
Membawa semerbak kebahagian ditengah gejolak jiwa
Hembuskan janji diatas kasih sayang
Merangkul hangat ditengah sunyinya kesendiriian
Membawa ku kian terbang bersama harapan
Pergilah, wahai separuh hati ku
Biar ku tumpuk kekecewaan ku bersama indahnya janji mu
Tak perlu hati mu bertanya apa pun
Meski hati ku tetap meleleh bersama derasnya air mata
Tak apa jika aku yang terluka
Karena bahagia mu ku ikhlas kan
Hati ku kian melebur meski perlahan,
Tinggalkan aku

wed, 1’march’17
@ 8th room, 10.26 p.m



dimana rembulan ?

Sekali lagi ku jelajahi pusaran bumi
Melintas sesekali di bawah kaki rerumputan hijau
Mata ku lamat-lamat menatap arah pandang
Aku tak lagi sendiri
Hembusan angin merangkul ku erat-erat
Tangan ku ringkih dalam dinginnya udara
Ku tengok sekali lagi kebelakang
Namun usaha ku terkalahkan kabut tebal
Bibir ku hampir membiru
Jantung ku tak lagi berdetak dengan senada
Nafas ku memburu
Aku tercekak sendiri
Tak peduli lagi ku lanjutkan sekali lagi
Bukan mentari yang ku nanti
Ku renggut semua halang rintang yang membujur
Jauh-jauh ku mencari
Meski beribu kali aku yang terluka
Kaki ku kian meringkuh
Tersungkur kaku diatas hempasan bebatuan
Ku hiraukan sakit yang mencengkam
Andai rembulan tak penah meninggalkan ku sendiri
Apa pun yang tersisa ku habiskan disini
Namun tak nampak jua rembulan yang ku cari
Langit hampir menghitam gemintang hampir bersua,
Namun mengapa tak ku temui remulan jua ?



Minggu, 12 Februari 2017

Under The Sea

Kali ini aku yang maju.
Ku hentakkan sepasang kaki ku diatas jutaan butir-butir pasir.
Aku ragu, namun hembusan sepoi angin menjorok ku dari arah belakang,
menepis dinding keragu-raguan ku yang sudah diubun-ubun.
Jujur aku ragu.
 Ku dongakan wajah pasi pucat ku ke langit terik nan biru,
lemah gemulai pepohonan nyiur melambai-lambai diterpa terik mentari.
 Tapi aku tetap ragu.
 Perlahan tapi pasti hentakkan ini lambat laun hanya menjadi selangkah terakhir yang harus ku lakukan.
Dingin, dingin, dingin, dan tetap dingin.
Air menggulung sekujur tubuh ku,
mengikis keraguan yang menodai diri ku.
Kini hanya ada aku dan dunia bawah laut.
Samar-samar dari kejauhan segerombol ikan terhuyung-huyung berenang nan anggun kesana kemari.
Sayang tak ada interaksi diantara kami.
Dunia tak harus diatas bumi,
lihatlah betapa eloknya dunia-dunia yang lainnya yang tak sempat aku jelajahi.
Kaki ku mengayuh tubuh ku. Tangan ku mendayung lautan.
Semakin banyak air yang ku dayung, semakin jauh pula aku meninggalkan dunia diatas bumi.
Disini aku tidak hanya menjadi sang penyelam bawah laut,
Namun, sebelum kepulangan ku,
aku akan menjelma menjadi  manusia baru yang meninggalkan sebongkah masa lalunya disini.
 Under the sea.






Sun, 27012017

Qoah M.J, 10.28 a.m

Tersesat

Saat mentari tak menyisakkan secercah sinarnya di satu sisi ruang hati ini yang redup
 Aku terus berjalan.
Berjalan lurus tanpa pedulikan kelam yang mencekam,
disudut jalan samar namun pasti ku lihat sebongkah batu besar menumpuk kaku penuh debu
sapuan tangan ku bergerak cepat namun itu tetap batu
 yang tak mungkin berubah menjadi bongkahan permata di hari kelam ku sekarang.
Ku putuskan hanya untuk terus berjalan sambil melupakan tumpukan bebatuan yang tadi.
 Kaki ku terus melangkah,
 angin mencekam sanubari ku,
membawa hampa kian membumbung tinggi,
ku pikir seseorang akan ku jumpai di perjalan kali ini,
namun aku tetap sendiri hingga hari ini.
Sesekali aku menengok kebelakang tapi tiada guna.
 Aku tetap sendiri,
perjalanan ini terasa semakin menyulitkan ku ketika kelam kian tak brhujung cahaya.
Aku hampir putus asa,
jalan ku terseok.
Kaki ku mematung.
Badan ku menggigil, namun tak sebeku hati ku.
Sekarang aku terdiam entah sesuatu apa yang membawa ku pada oase kehidupan lalu ku
 yang telah lama sengaja aku lupakan
tanpa mencoba untuk mengingat-ingat setiap inci kejadiannya.
 Namun saat ini semuanya seakan berputar-putar disekeliling tubuh ku
memutar-mutar balik koleidoskop masa lalu yang telah lama ku buang jauh-jauh dari ingatan ku.
Aku tak berkutik. Hembusan angin lebih mencekam dari yang sebelumnya.
 Kelam semakin membara.
 Hati ku kini sepenuhnya remuk.
 Hancur berantakan di tengah perjalanan yang belum sempat aku selesaikan.



 Sun, 01292017

Alazhar3, 08.03 a.m