Kelam bertumpu di kanvas langit, bintang-gemintang luas melintang
dari satu arah menuai hingga menjadi hamparan kerlap kerlip yang menawan,
ditambah bias rembulan yang memantul sempurna disela-sela jendela kamar - ini
malam yang sempurna. Cassandra masih
terduduk begitu saja tepat menatap jendela kamarnya, meski hembusan angin kian menerpa wajahnya lebih sering, namun
diamnya tak bergeming - masih sesunyi beberapa jam yang lalu.
Angkasa, ya. Namanya angkasa, entah bagaimana keduanya mampu dipertemukan begitu
saja. Kejadiannya sangat klasik tanpa menuntut alur cerita yang berbelit hingga
sulit dikenang, hanya sebatas cerita menarik ditengah rinainya bulir hujan.
***
Sore
itu hujan seperti ditumpahkan sengaja ke bumi, angin berhembus
sekencang-kencangnya, guntur menyambar hingga memekik telinga, pepohonan
seperti tak kuasa melawan arah angin yang mendayu paksa dedahanan yang lekas menjuntai ketanah.
Cassandra terduduk disudut teras sebuah pertokoan kecil yang menghadap kejalan
utama. Tiba-tiba sebuah tangan menjulurkan sebuah payung dihadapannya.
“
Payung ku terlampau besar jika hanya aku yang menggunakannya, em.. mau pulang
bersama ku ? “ Seorang lelaki yang terlihat sebaya dengan cassandra tiba-tiba suaranya menerobos disela-sela suara guntur yang memekik. “ Eh ? aku ? “
Cassandra hampir tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. “ Ayo, nama ku
Angkasa. Kalau kamu ? “ Tanpa menunggu reaksi Casssandra Angkasa lebih dulu menarik lengan
Cassandra hingga membuatnya beranjak dari
tempat duduknya. Keduanya pun membelah hujan dengan payung tumpangan yang diberikan
Angkasa. “ Oh, kalo aku Cassandra. Tapi
bagaimana bisa kamu memberi ku tumpangan payung ? “ Casandra menatap wajah
angkasa agak ragu, namun hatinya berdetak jauh lebih cepat. “
Karena aku hanya bisa lihat kamu disana “ Senyumnya menyimpul diujung kalimat. “
Maksud kamu ? “ Cassandra belum paham sepenuhnya, Namun percakapan pertama
mereka terhenti sampai disitu.
Rumah
Cassandra sudah terlihat didepan. Keduanya sampai setelah 15 menit parjalanan.
Hujan yang tadinya mengguyur tanpa ampun kini mendadak seperti tersumbat - tak
meyisakkan sebutir pun tetes hujan. “ Ini rumah kamu San ? “ Angkasa bertanya
sekali lagi sambil menutup payungnya. “ Iya, ini rumah ku. Rumah kamu dimana Sa
? “ Cassandra menatap sekali lagi sepasang bola mata yang terlihat begitu teduh dihadapannya. “ Kalau tiba-tiba aku datang kesini
lagi, kamu gak keberatan kan
jalan-jalan sama aku ? “ . “ Eh, i..iiyaa .. “ Belum sempat manjawab pertanyaan
Angkasa, tubuhnya telah lenyap dalam rangkulan Angkasa terlebih dahulu. Mimik wajahnya kian terkejut dalam rangkulan Angkasa, matanya
membulat, bibirnya seraya membulat - ternganga. “ Kamu gak perlu tahu apa-apa tentang aku.
Cukup aku yang tahu segalanya tentang kamu. Aku janji “ belum sepenuhnya Cassandra melewati masa terkejutnya, mata teduhnya menatap lamat sepasang mata
Cassandra.
Selaras hari itu kian berlalu, semenjak itulah Cassandra belajar apa itu yang sejati. Entahlah, Cassandra sendiri
sebenarnya belum sepenuhnya memahamai maksud yang ‘sejati’, tapi ia yakin
sejati itu adalah yang hadir tanpa meninggalkan.
***
Waktu
sudah menunjuk seperempat hari, jingga membentang luas dilangit-langit. Serdadu
burung cemara berarak riang dalam gemulainya kepakakkan sepasang sayap, pantulan mentari memantul padu diatas danau yang
tenang, beberapa angsa sibuk berenang kesana kemari.
Kali
ini Angkasa mengajak Cassandra lagi untuk menghabiskan waktu sunset bersama-sama. Tiba-tiba pertanyaan Angkasa
memecah hening yang diciptakan alam. “ Kamu percaya aku San ? “ pandangannya
lurus kedepan, menengadah menatap mentari yang segera tumbang. “ Entah, aku
juga gak tahu kenapa bisa memberikan kepercayaan ku buat kamu sepenuhnya gitu
aja. “ Suaranya datar namun penuh pengartian disetiap kata-kata yang terlontar.
Jemari Angkasa meraih jemari Cassandra dengan segera. “ Aku janji San, bukan
hanya mentari aja yang bisa tersenyum terus buat semua orang. Suatu saat nanti
kamu yang harus menjadi mentari disetiap hati orang-orang yang kamu sayangi.
Aku janji “ jemari Angkasa semakin kuat menggenggam jemari Cassandra.
Angkasa
penuh teka-teki bagi Cassandra, teka-teki yang mengajarkan kata ‘sejati’.
Sejati yang menurutnya hadir tanpa meninggalkan. “ Mau pulang ? “ kali ini matanya menatap wajah Cassandra dengan sengaja. Tak ada
jawaban dari bibir Cassandra - ia masih mencerna setiap perkataan Angkasa yang
terlontar tanpa diduga. Kepalanya mengangguk mantap tanda setuju.
Perlahan namun
pasti keduanya meninggalkan danau tersebut. Bagi Cassandra dimana pun tempat
yang mereka kunjungi, semuanya telah mengunci setiap detik kenangannya bersama
Angkasa - Lelaki yang mengajarkan kata ‘sejati’ untuk Cassandra.
“ Aku boleh Tanya
sesuatu sama kamu ? “ jemari Cassandra menyentuh lengan Angkasa. “ Apapun “
tangan Angkasa mengacak tatanan rambut Cassandra yang tertata. “ Menurut kamu
sejati itu yang bagaimana Sa ? “ tatapannya nanar, memandang lurus tanpa
tujuan. “ Menurut aku, sejati itu yang hadir tanpa meninggalkan dan yang abadi
ketika semuanya hanya sementara. Sama halnya sama manusia San, cepat atau
lambat pasti ada yang meninggalkan dan ditinggalkan, termasuk aku dan kamu.
Tapi ingat sesuatu yang sejati itu tidak akan pernah lenyap meski aku pun tidak
akan abadi menemani kamu. Itulah yang disebut ‘cinta’, saat tak ada alasan
dimana kita tidak mampu menyakiti perasaan seseorang. Aku janji San “ kali ini
mata Angkasa menatap tajam kearah sepasang bola mata Cassandra, belum pernah
Angkasa menatapnya seperti ini - dalam dan penuh keteduhan. Cassandra jatuh
cinta.
***
Waktu terasa
berjalan secepat hembus angin, meloncat dari satu detik ke detik selanjutnya,
membuat hari kian dipenghujung bulan. Sudah hampir satu bulan Cassandra
mengenal Angkasa, tidak diragukan Angkasa yang membuat hari-hari Cassandra bak
hembusan angin.
“ San, ini dari
aku buat kamu “ tangannya meraih sesuatu didalam saku celananya. “ Kalung ?
kenapa tiba-tiba begini Sa ? “ matanya belum mempercayai apa yang ia lihat sekarang.
“ Aku pilih kamu jadi pemilik abadi kalung ini. Kamu suka kan ? “ tangannya
meraih tangan Cassandra. “ Tapi kenapa kamu pilih kalung matahari buat aku ? “
matanya masih menatap lamat-lamat kalung matahari dalam genggamannya. “ Karena
kamu harus menjadi matahari bagi setiap orang yang kamu sayangi. Ada atau tidaknya
aku kelak. “ Nada bicara Angkasa mulai berubah - seperti ada sesuatu yang
mencekat ditenggorokannya.
Cassandra lekas
mendekap Angkasa. Air matanya membuncah, meski sedari tadi sekuat apapun
Cassandra menolaknya namun air mata itu kian tak terkendali. Cassandra bukan
menangis karena terharu atas pemberian Angkasa terhadapnya. Ia menangis karena
takut kehilangan Angkasa - seseorang yang mengajarkannya arti ‘sejati’ yang
sesungguhnya.
“ Kok kamu nangis
San ? “ Cassandra masih mendekap Angkasa, bukannya menjawab ia malah balik
bertanya. “ Kamu gak akan kemana-mana kan Sa ? “ suaranya menjadi terisak. “
Aku disini San, aku gak kemana-mana. “ jawaban Angkasa sebenarnya melegakkan
pikiran buruk Cassandra, namun sesuatu seperti menahan suara datar Angkasa. “ Kamu
gak boleh jadi yang meninggalkan karena aku juga gak mau jadi yang
ditinggalkan. Aku yakin kamu juga salah satu dari yang sejati “ Cassandra
melepas dekapannya, matannya langsung mencari sepasang mata Angkasa -
memastikan bahwa mata itu tidak berbohong. “ Kamu yang salah San, bukan aku
yang sejati, tapi ini. Cinta aku yang sejati buat kamu. Aku janji “ jemarinya
menunjuk dadannya sediri. Mata angkasa kini mulai berkaca-kaca. Menahan sesuatu
yang lekas melelah.
“ Aku pulang ya
San, kamu juga masuk kedalam ya. Sekarang sudah larut, nanti kamu capek “
Sambil membelai rambut panjang Cassandra. “ Tapi besok kamu ajak aku jalan lagi
kan Sa ? jangan pergi “ Suara parau Cassandra mengambang diantara angin malam,.
“ Apapun yang terjadi kelak, kamu harus jaga kalung matahari pemberian ku San.
“ Cassandra tak bergeming. Jemarinya masih menggenggam jemari Angkasa begitu eratnya. Sebenarnya ini
bukan perpisahan pertama mereka setelah menjalani rutinitas harian menghabiskan
sunset bersama. Selalu ada hari esok yang dinanti oleh Cassandra saat
bersama dengan Angkasa. Entahlah rembulan bak berbisik begitu saja dikedua
telinga Cassandra bahwa kali ini adalah yang terakhir.
***
“ Aaaaaahhhhhhh ….
Mata ku kenapa bu, kenapa gelap ? ibu dimana ? bu, jawab aku bu, kenapa
semuannya hanya ada satu warna ? “ Cassandra menjerit histeris diatas kasurnya.
Sang ibu yang sedari tadi duduk terjaga disampingnya tak mampu menjelaskan
apa-apa, kecuali derasnya air mata yang ia luapkan. “ Nak ini ibu nak, ibu
disini, disamping kamu San, jangan takut, ada ibu “ ibunya mendekap Cassandra
seerat mungkin. “ Ibu, kenapa aku tidak bisa lihat apa-apa selain hitam ? sejak
kapan mata ku jadi begini bu ? “ Suaranya mencekat.
Hampir setengah
menit terajut, ibunya belum menjawab juga pertanyaan Cassandra - masih bingung
merangkai kalimat yang tepat untuk diucapkan kepada anaknya. “ Kecelakaan
keluarga kita 3 bulan yang lalu San, ayah mu meninggal, dan kamu…buta secara
permanen nak. “ pun ibunya, menjawab sesingkat mungkin - hatinya masih tercabik
akibat kejadian sebulan lalu.
Tiga bulan lalu,
keluarga mereka mengalami kecelakaan tragis. Dimana maut menjemput sang ayah,
Cassandra buta permanen, hanya sang ibu yang selamat seutuhnya. Cassandra
sendiri baru siuman dari komanya.
“ Angkasa, oh iya Angkasa bu, mana Angkasa ? “
tiba-tiba ia teringat nama seseorang yang terasa begitu nyata diingatannya. “
Angkasa siapa San ? tidak ada siapa-siapa selain ibu selama kamu koma nak. “
ibunya turut bingung, karena ibunya tak sedikit pun mengenal seorang teman
Cassandra yang bernama Angkasa. Teman Cassandra dapat dibilang tidak terlalu
banyak, Cassandra sendiri home schooling dirumahnya, sehingga ibunya pun
tahu siapa saja teman Cassandra.
“ Bu, bukankah liontin kalung ku berbentuk
matahari ? “ Ucap Cassandra yang terdengar mencekat sambil memegang liontin
kalungnya sendiri. “ Iya nak itu matahari“. “ Siapa yang memberikan ini untuk
ku ? Apakah ibu tahu ? “. Ibunya menggeleng, hatinya begitu miris. Menganggap
Cassandra masih belum bisa menerima kenyataan yang menghantam keras hati
anaknya hingga begitu berkeping-keping “ Tapi ibu baru melihat kamu mengenakan kalung
itu sekarang nak, kemarin tidak ada kalung itu “ tangan sang ibu pun mulai
meraih kalung matahari yang dikenakan Cassandra.
***
Benar, Cassandra
memang buta dan koma tiga bulan yang lalu. Sekarang hari jatuh pada bulan
Januari. Cassandra ingat betul Angkasa menemuinya pada bulan Desember - Saat
penghujan tiba. Biarlah, siapa dia Angkasa, baik itu hanya mimpi indahnya
ataupun ilusinya saja, namun Cassandra yakin, bahwa Angkasa memang tidak akan
pernah menjadi sesuatu yang sejati, tapi rasa didalam hati Angkasa lah yang
akan selamannya sejati. Sesering Angkasa berkata ‘Aku janji’ kepadanya.
Tangannya sekali lagi meraba kalung yang ia kenakan. Entahlah setiap Cassandra
meraba kalungnya, ia merasa sebuah kedamaian menyeruak begitu saja kedalam
hatinya. Pertemuaannya memang janggal. Sama sekali tak masuk akal, tapi
Cassandra akhirnya memahami mengapa Angkasa waktu itu memberikannya kalung
matahari kepadanya. Bukti bahwa Angkasa memang seseorang yang nyata. Meski
sebatas ilusi yang kini hanya mampu ia ingat.
Cassandra percaya
suatu hari nanti sesuatu yang bernama ‘sejati’ itu pasti akan menghampirinya
lagi. “ Terimakasih Angkasa, karena mu aku telah memahami jika yang sejati itu
pasti abadi tanpa meninggalkan, meski yang memiliki hati telah pergi, namun
perasaannya tidak akan lenyap bersama sang pemilik. Terimakasih karena telah
mengajarkan ku untuk menjadi ‘mentari’. Sekarang aku yang janji untuk mu Sa “
Kalimat Cassandra tidak terputus sepenuhnya - isak tangisnya meleleh, seakan
menjelaskan betapa sulitnya merindukan seseorang yang entah dimana. Malam itu
pun Cassandra telah sepenuhnya menerima apa yang terjadi terhadapnya. Meski itu
sebatas mimpi atau ilusi belaka.